Sunday, September 16, 2012

Menakar Nilai Shalat Subuh

"Dua rekaat fajar (Shalat sunnah sebelum Subuh) lebih baik dari dunia dan seisinya." (HR Muslim)
Lalu... Apa yang menghalangi kita Shalat Subuh ? Bukankah ia menjadi bagian yang begitu besar dibanding dunia?


     Membaca Al-Qur'an dan hadits-hadits Rasulullah saw, Anda akan mengetahui dengan mudah dan jelas bahwa Shalat Subuh sangat mahal nilainya.

     Shalat yang agung ini benar-benar memiliki daya tarik, karena kedudukannya dalam Islam dan nilainya yang tinggi dalam syariat. Banyak sekali hadits yang mendorong untuk melaksanakan Shalat Subuh, dan menyanjung mereka yang menjaganya.

    Rasulullah saw seorang pendidik yang menyadari serta memahami tabiat manusia dan dorongan jiwa mengetahui bahwa waktu Subuh adalah waktu yang sulit. Seorang muslim bila dibiarkan begitu saja, akan memilih mengistirahatkan dirinya dan meninggalkan Shalat wajib.

"Karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat Rabbku. Sesungguhnya Rabbku Maha Pengampun lagi Maha Penyayang".(QS. Yusuf : 53)

    Oleh karena itu Rasulullah saw telah mengkhususkan Shalat mulia ini dengan keistimewaan tunggal dan sifat-sifat tertentu yang tidak terulang pada Shalat lainnya. Beberapa karakteristik ini mendorong seorang mukmin yang jujur untuk konsekuen melaksanakan Shalat ini secara berjamaah  dengan sekuat tenaga. Seorang mukmin akan memberikan semangat tinggi untuk berkorban segala sesuatu yang dia miliki, agar tidak hilang darinya walau hanya satu kewajiban, bagaimanapun kondisinya atau apapun rintangannya.

    Saya telah mengumpulkan keistemawaan-keistimewaan tersebut sebanyak sepuluh keistimewaan. Semoga Allah memberi manfaat bagi kita semua terhadap keistimewaan ini.
  • Pahala Tanpa Batas
      Orang yang melaksanakan Shalat Subuh dengan berjamaah mendapatkan keistimewaan yang didapatkan orang-orang yang melaksanakan selain Shalat Subuh dengan berjamaah. Bahkan dia akan mendapatkan lebih dari semua itu.

     Dia mendapatkan pahala seperti orang-orang yang Shalat berjamaah pada umumnya, yaitu 25 atau 27 derajat pahala. Diberikan padanya kebaikan yang banyak, dihapus kejelekannya, ditinggikan beberapa derajat kedudukannya. Malaikat berdo'a baginya, dan beberapa balasan lain yang didapatkan orang yang berjamaah pada umumnya. Namun Shalat Subuh memiliki kelebihan khusus yang tidak ada pada Shalat yang lain. Di antaranya adalah :

1. Pahala Shalat Malam Satu Malam Penuh

Diriwayatkan Muslim dari Utsman bin Affan ra berkata : Rasulullah saw telah bersabda :

"Barang siapa yang Shalat Isya' berjamaah maka seakan-akan dia telah Shalat setengah malam. Dan barang siapa Shalat Subuh berjamaah (atau dengan Shalat Isya', seperti yang tertera dalam hadits Abu Dawud dan Tirmidzi) maka seakan-akan dia telah melaksanakan Shalat malam satu malam penuh".
(HR.Muslim)

Mampuhkah Anda melaksanakan Shalat malam satu malam penuh ?

     Dengan karunia dan kemuliaan-Nya, Allah swt telah memberi Anda pahala ini, jika Anda melaksanakan Shalat Subuh dan Isya' berjamaah. Dan telah diketahui bahwa pahala Shalat malam sangat besar dan agung. Tapi pahala Shalat Subuh berjamaah jauh mulia darinya.

    Jika Anda telah mengetahui keutamaan dalam Shalat Subuh berjamaah, maka saya memohon kepada Anda, bantulah saya untuk menjawab soal-soal yang tertuju kepada mereka yang berbondong-bondong melaksanakan Shalat Tahajud pada malam 27 Ramadhan. Mereka yang berdiri tegak menghadap pada Allah swt berjam-jam, dan telah mengeluarkan tenaga yang berlipat ganda dengan harapan bisa Shalat pada malam yang penuh barakah ini.

     Saya bertanya pada mereka ?

   Menurut pendapat Anda, yang lebih Afdhal ; menghidupkan malam Qadar secara sempurna dengan ibadah, atau Shalat Subuh berjamaah pada bulan Syawal, Safar, atau Rajab, atau bulan-bulan lain selain bulan Ramadhan?

    Mana yang paling berat timbangannya di sisi Allah ?

    Mana yang paling Anda sedihkan ketika Anda tidak bisa melaksanakannya ?

    Saudaraku.... bukankah kita Shalat karena Allah swt ?

    Bukankah kita berdiri tegak beberapa jam di malam Qadar hanya mengharapkan keridhaan Allah swt ?

   Kalau kita telah mengetahui bahwa keridhaan Allah tidak akan didapat kecuali dengan melaksanakan kewajiban-kewajiban-Nya sesuai dengan waktu yang telah ditentukan, dengan cara yang diperintahkan, dan di tempat yang di inginkan -Nya, mengapa  kita harus  mendahulukan sesuatu  yang  tidak diutamakan Allah swt ? Mengapa mengakhirkan sesuatu, sementara sesuatu itu justru diutamakan Allah swt ?

     Kalimat ini bukan bermaksud  untuk  meremehkan nilai malam Qadar. Saya memohon perlindungan kepada Allah swt untuk hal ini. Malam Qadar merupakan malam yang paling mulia dalam satu tahun, dan juga lebih baik dari seribu bulan. Kendatipun demikian, tetap kedudukannya sebagai Shalat sunnah, dan tidak lebih utama dari pada Shalat wajib.

    Apakah iman Anda akan dianggap benar, bila meninggalkan Shalat Maghrib atau Isya' pada malam Qadar, untuk kemudian mengerjakan Shalat malam secara sempurna ? Jelas, seperti ini tidak benar.

    Apakah Anda sanggup melaksanakan Shalat sunnah Zhuhur 20 rekaat, kemudian meninggalkan Shalat Zhuhur yang wajib ?

   Apakah bermanfaat, bila Anda berpuasa Senin dan Kamis sepanjang tahun, lalu dengan sengaja meninggalkan puasa Ramadhan tanpa sebab ?

     Kalau seandainya jawaban dari semua pertanyaan ini adalah "Tidak", lalu mengapa kaum muslimin masih sering meninggalkan Shalat Subuh ? Apakah ia bukan wajib seperti halnya Shalat Zhuhur dan Ashar, juga seperti puasa Ramadhan dan zakat wajib ?

      Allah swt telah menjelaskan, wajib itu secara umum lebih utama dari yang sunnah. Allah swt menjelaskan dalam hadits Qudsi-Nya yang diriwayatkan dari Abu Hurairah ra bahwasannya Rasulullah saw bersabda, "Allah swt berfirman" :

"Tak ada amal yang dikerjakan hamba-Ku dengan maksud untuk mendekatkan diri kepada-Ku yang lebih Aku cintai, selain ibadah wajib yang Aku perintahkan kepadanya. Dan hamba-Ku terus mendekatkan diri pada-Ku dengan amalan sunnah sehingga Aku mencintainya". (HR. Al-Bukhari)

     Dengan demikian sebagaimana ia merupakan sisi agama  yang wajib diketahui Shalat Tahajjud pada malam Qadar adalah sunnah, dan Shalat Subuh pada hari apa pun dalam hitungan tahun adalah wajib.

     Jika Anda telah memahami itu semua, maka ceritakan  pada saya : Mengapa manusia berbondong-bondong Shalat malam Qadar di masjid hingga penuh dari depan hingga belakang bahkan kadang menutupi jalan-jalan di sekitar masjid; kemudian setelah bulan Ramadhan pergi, jamaah yang sedemikian banyak jumlahnya itu tiba-tiba meninggalkan Shalat Subuh di masjid.... Mengapa ???

       Bukankah ini benar-benar merupakan isyarat hilangnya pemahaman agama yang lurus ?

     Manusia yang   begitu menyedihkan   terperdaya  dengan sesuatu yang baru dan bersifat musiman (insidentil), dan menghindari sesuatu yang sudah biasa dilakukan. Shalat di malam Qadar sekali dalam satu tahun, namun Shalat Subuh dilakukan setiap hari. Maka manusia kehilangan kepekaan nilai Shalat Subuh dan mencurahkan seluruh perhatiannya pada Shalat malam Qadar.

     Malam Qadar tidak dapat diraih seseorang dengan cara kebetulan. Malam Qadar merupakan hadiah Allah swt untuk mereka yang menjaga Shalat wajib. Malam Qadar diberikan kepada mereka yang bersungguh-sungguh dalam beribadah sepanjang tahun.

      Ibadah bukan didasarkan pada bulan. Apakah masuk akal, seseorang yang beribadah kepada Allah swt sepuluh hari atau sehari dalam satu tahun sama nilainya dengan seseorang yang beribadah sepanjang tahun ?

      Apakah masuk akal, bila Allah swt membebaskan hamba-Nya dari api neraka bagi mereka yang Shalat malamnya hanya sepuluh hari, sama dengan mereka yang bangun setiap hari waktu Shalat Subuh ?

       Sesungguhnya Allah swt menghitung amalan sebesar biji sawi dan sehalus kulit ari.

"Dan tidaklah sama orang yang buta dengan orang yang melihat, dan tidaklah (pula sama) orang-orang yang beriman serta mengerjakan amal shalih dengan orang-orang yang durhaka. Sedikit sekali kamu mengambil pelajaran". (QS. Al-Mukmin : 58) .

     Agama kita adalah agama yang tertata rapi dan jelas. Seharusnya manusia lebih berbondong-bondong dan berlomba-lomba melaksanakan Shalat wajib berjamaah, dari pada Shalat sunnah, walaupun Shalat malam Qadar !

   Ini bukan perkataaan saya, namun perkatan Rasulullah saw. Diriwayatkan dari Abu Hurairah ra, bahwasannya Rasulullah saw bersabda :

"Kalau sekiranya manusia mengetahui apa yang tersembunyi dalam adzan dan shaf pertama, maka mereka tidak akan mendapatkan bagian kecuali dengan jalan diundi didalamnya, niscaya mereka akan ikut serta dalam undian (banyaknya yang berbondong-bondong guna mendapatkan shaf pertama). Dan jika mereka mengetahui apa yang didapatkan dalam awal kedatangan (Shalat jamaah), niscaya akan berlomba-lomba. Dan jika mereka mengetahui apa yang tersimpan di dalam Shalat Subuh dan Isya' maka mereka akan mendatanginya walau dengan merangkak". (HR.Al-Bukhari)

      Ada sebagian orang mengatakan bahwa do'a di malam Qadar akan di kabulkan. Itulah sebab orang-orang giat beribadah. Saya katakan kepadanya : Betul, bahwa do'a di malam Qadar itu akan dikabulkan. Sebagaimana yang telah kita sebutkan, malam Qadar merupakan malam yang paling agung dalam satu tahun. Kita memohon kepada Allah swt, semoga kita dapat meraihnya. Namun apakah ini satu-satunya waktu yang di kabulkan dalam satu tahun ?

     Sesungguhnya Allah swt memberi kesempatan yang sama pada setiap saat dalam kehidupan Anda ! Sungguh Allah yang Maha Suci mengatakan :

"Dan Rabbmu berfirman, 'Berdo'alah kepada-Ku, niscaya akan Ku perkenankan bagimu". (QS. Al-Mukmin : 60).

"Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku maka (jawablah), bahwasannya Aku dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang mendo'a apabila ia berdo'a kepada-Ku".(QS. Al-Baqarah : 186)

     Kewajiban Anda hanyalah berdo'a, niscaya Allah yang akan mengabulkan permintaan Anda. Kapan, dan dimanapun Anda berada sepanjang hidup Anda.

     Bila Anda beralasan, "Disana ada waktu-waktu yang mulia yang lebih di kabulkan". Maka saya katakan kepada Anda, "Benar. Namun Anda pun memiliki waktu yang mulia ini. Setiap malam sepanjang tahun,  akan tetapi Anda sering melupakannya".

     Di setiap malam terdapat saat-saat terkabulnya do'a. Kesempatan ini hanya diketahui orang-orang yang bangun sebelum Subuh, walau hanya sebentar. Saat-saat  yang mulia. Bahkan ia merupakan kesempatan paling mulia sepanjang masa !

     Perhatikan hadits Rasulullah saw yang diriwayatkan dari Abu Hurairah ra :

"Allah akan turun kelangit bumi pada setiap malam, ketika malam tinggal sepertiga yang terakhir. Dia berkata, 'Mana hamba-ku yang berdo'a, untuk Aku kabulkan (do'anya) ? Mana hamba-Ku yang meminta kepada-Ku, untuk aku penuhi (permintaannya) ? Mana hamba-Ku yang beristigfar, untuk Aku ampuni (dosanya) ?". (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

     Apa yang lebih Anda inginkan dari itu semua ?

    Allah swt turun ke langit bumi, menyuruh Anda supaya berdo'a pada-Nya agar Dia mengabulkan doa Anda.

   Ya Allah betapa banyak kasih sayang-Mu. Alangkah mulianya Engkau. Betapa Agungnya diri-Mu. Alangkah dekatnya Engkau. Demikian ini terjadi setiap malam. Subhanallah.

    Kemudian, jika Anda melaksanakan Shalat Subuh setelah itu, maka Anda lebih dekat kepada Allah swt dan Dia lebih mendengarkan do'a-do'a Anda.

    Mari kita simak hadits Rasulullah saw yang diriwayatkan dari Abu Hurairah ra :

"Saat yang paling dekat antara Allah dan hamba-Nya adalah di saat sujud, maka perbanyaklah do'a pada waktu itu". (HR.Muslim).

    Pahala Shalat Subuh lebih tinggi, kewajiban melaksanakan Shalat Subuh lebih penting, dan do'a lebih cepat dikabulkan ketika Shalat Subuh. Namun, mengapa manusia tidur pada saat adzan Shalat Subuh ? Mengapa mereka meninggalkan kebaikan ini ? Sebuah pertanyaan yang perlu segera kita jawab !

2. Sumber Cahaya di Hari Kiamat

   Shalat Subuh merupakan sumber dari segala sumber cahaya di hari kiamat. Di hari itu, semua sumber cahaya di dunia padam. Matahari akan di gulung dan bintang-bintang pun berjatuhan, sebagaimana firman Allah swt :

"Apabila matahari di gulung. Dan apabila bintang-bintang berjatuhan". (QS. At-Takwir : 1-2).

   Manusia di bangkitkan dalam keadaan gelap gulita. Gelap yang berlipat ganda. Saat itu, manusia sangat membutuhkan cahaya supaya bisa meraba jalannya, agar bisa melewati kumpulan orang-orang yang begitu banyak jumlahnya. Tatkala melewati Sirath (jembatan di akhirat), cahaya sangat dibutuhkan. Sirath ini mengerikan kondisinya. Tidak akan ada yang bisa melewati, kecuali orang-orang yang dikehendaki-Nya.

   Diriwayatkan dari Abu Hurairah ra, bahwa Rasulullah saw menggambarkan keadaan manusia pada saat melewati Sirath  dengan sabdanya :

"Yang pertama kali lewat di antara kalian bagaikan kilat".
Aku (Abu Hurairah) bertanya, 'Demi bapak dan ibuku sebagai tebusannya, apa maksud "berjalan seperti kilat" ?. Beliau saw melanjutkan, "Tahukah kamu bagaimana kilat pergi dan datang dalam sekejap?
Kemudian ada yang berjalan seperti angin, seperti burung, dan ada juga yang berlari. Perjalanan mereka sesuai dengan amalan mereka. Sedangkan Nabi kalian ini (Muhammad saw) berdiri (menunggu) di atas Shirath seraya berdo'a, 'Ya Allah, selamatkanlah..... selamatkanlah......

Sampai ada yang amalannya (karena sedikit) tak sanggup (membawa si hamba tadi) sehingga ada orang yang tidak bisa lewat melainkan dengan merayap.

Pada kedua sisi Shirath terdapat pengait-pengait dari besi yang akan menyambar siapa saja yang Allah swt perintahkan untuk di sambar. Ada yang tersambar hingga bagian tubuhnya robek/terputus namun ia selamat, dan ada juga yang terkait lalu terhempas ke neraka.

Abu Hurairah ra berkata, 'Demi Zat yang jiwa Abu Hurairah di tangan-Nya, sesungguhnya dasar neraka jahannam dalamnya sejauh tujuh puluh musim (tahun). (HR.Muslim)

    Pada hari yang sangat berat dan gelap itu, Allah swt hanya memberikan cahaya kepada semua orang Islam. Maksudnya, pada awalnya diberikan kepada semua orang yang menyatakan Islam ketika di dunia. Namun sebagian dari mereka akan jadi munafik, yang hanya berbicara dengan lisannya, tetapi hatinya mengingkari. Sehingga apabila semuanya sudah mendekati Sirath, Allah hanya akan memberikan cahaya itu kepada orang-orang mukmin, yang jujur saja.

   Lenyaplah cahaya bagi orang-orang munafik. ketakutan dan kebingungan pun menyelimuti mereka. Walhasil mereka bersandar pada orang-orang mukmin, meminta sedikit cahaya yang ada pada mereka. Orang mukmin mengisyaratkan mereka kembali ke tempat dimana Allah swt telah memberikan cahaya-Nya. Lalu orang-orang munafik tadi kembali ke tempat semula. Namun mereka tidak mendapatkan apa-apa. Hancurlah seluruh harapan mereka. Selanjutnya mereka meminta tolong, padahal (waktu itu), tidak ada kesempatan untuk lari menyelamatkan diri.

    Rincian peristiwa ini terdapat lebih dari satu hadits dalam Shahih Muslim, dan Allah swt menggambarkan hal itu di dalam Kitab-Nya yang mulia :

"(Yaitu) pada hari ketika kamu melihat orang mukmin laki-laki dan perempuan, sedang cahaya mereka bersinar di hadapan dan di sebelah kanan mereka. (Dikatakan kepada mereka), 'Pada hari ini ada berita gembira untukmu, (yaitu) surga yang mengalir dibawahnya sungai-sungai, yang kamu kekal di dalamnya. Itulah keberuntungan yang besar.

Pada hari ketika orang-orang munafik laki-laki dan perempuan  berkata kepada orang yang beriman, 'Tunggulah kami supaya kami dapat mengambil sebahagian dari cahayamu'. Dikatakan (kepada mereka), 'kembalilah kamu ke belakang dan carilah sendiri cahaya (untukmu)'. Lalu diadakan di antara mereka dinding yang mempunyai pintu, di sebelah dalamnya ada rahmat dan di sebelah luarnya ada siksa.

Orang-orang munafik itu memanggil mereka (orang-orang mukmin) seraya berkata, 'Bukankah kami dahulu bersama-sama dengan kamu. 'Benar, tetapi kamu mencelakakan dirimu sendiri dan menunggu (kehancuran kami) dan kamu  ragu-ragu serta di tipu angan-angan kosong sehingga datanglah ketetapan Allah swt; dan kamu telah ditipu terhadap Allah oleh (setan) yang amat penipu.

Maka pada hari ini tidak diterima tebusan dari kamu dan tidak pula dari orang-orang kafir. Tempat kamu ialah neraka. Dialah tempat berlindungmu. Dan dia adalah sejahat-jahat tempat kembali."
(QS.Al-Hadid:12-15).

      Dari mana orang-orang mukmin mendapatkan cahaya agung pada hari yang sangat gelap gulita itu? Cahaya itu amal perbuatan mereka yang banyak ketika di dunia. Cahaya itu adalah janji Allah swt sebagai balasan bagi amal-amal mereka. Di antara amalan ini adalah : Shalat Subuh berjamaah.

    Bacalah hadits yang diriwayatkan dengan sanad yang shahih dari Buraidah Al-Aslami ra. Ia berkata bahwa Rasulullah saw bersabda:

"Berikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang banyak berjalan dalam kegelapan menuju masjid dengan cahaya yang sangat terang pada hari kiamat". (HR. Abu Dawud, At-Tirmidzi, dan Ibnu Majah).

   'Orang yang banyak berjalan'
maksudnya adalah mereka yang membiasakan diri melaksanakan keutamaan yang besar ini.

     'Dalam Kegelapan'  maksudnya Shalat Isya' dan Shalat Subuh.

    Ungkapan "menuju masjid" merupakan dalil yang jelas bahwa  cahaya itu diberikan kepada orang yang membiasakan diri Shalat Subuh dan Isya' berjamaah di masjid. Shalat yang di maksud disini tidak hanya sekedar Shalat berjamaah saja, namun Shalat ini harus dilaksanakan di rumah Allah swt, Masjid.

    Ini merupakan bantahan bagi sebahagian orang Islam yang melaksanakan Shalat di rumah bersama istri dan anak mereka. Mereka berkeyakinan bahwa apa yang mereka lakukan merupakan suatu keutamaan. Karena melatih keluarga untuk Shalat, dan untuk mengangkat derajat mereka (anak dan istri) agar memperoleh pahala berjamaah.

    Namun Allah swt yang membuat syariat dan undang-undang memerintahkan pada muslim laki-laki untuk Shalat di masjid, dan memberikan pahala yang sama pada perempuan yang melaksanakan Shalat di rumah. Sedangkan pembiasaan anak untuk melaksanakan Shalat jamaah adalah dengan membawa mereka ke masjid, atau Shalat bersama mereka di rumah. Shalat di rumah pun hanya Shalat Sunnah, bukan Shalat Wajib.

    Allah swt akan memberikan cahaya yang sangat terang pada hari kiamat nantinya kepada mereka yang menjaga Shalat Subuh berjamaah. Artinya, Dia tidak akan mencabut cahaya tersebut dimana saja, dan tidak mengambilnya ketika melewati Sirath Al-Mustaqim. Dia akan tetap bersama mereka sampai mereka masuk surga, Insya Allah.

    Tidak di ragukan lagi, cahaya bagi orang yang beriman di hari kiamat berbeda-beda. Tidak semua mukmin mendapatkan cahaya seperti mukmin yang lain. Kadar cahaya tersebut disesuaikan dengan amalan mereka. Disinilah Shalat Subuh berperan. Allah swt akan memberikan cahaya sempurna bagi orang beriman  karena Shalat Subuh di hari kiamat kelak.

   Bahkan Rasulullah saw yang begitu memperhatikan umatnya dan mencintai pengikutnya. mengajarkan dzikir khusus pada saat berjalan menuju masjid tatkala kegelapan masih menyelimuti bumi.
   
    Rasulullah saw mengajarkan do'a yang berisi permohonan agar Allah memberikan cahaya yang menyinari hidup mereka. Agar Allah memberi cahaya di dalam kubur mereka, dan agar cahaya tersebut tetap bersama mereka hingga hari kiamat.

    Diriwayatkan dari Abdullah bin Abbas ra, bahwa ketika Rasulullah saw keluar untuk melaksanakan Shalat Subuh, beliau berdo'a :

"Ya Allah berikanlah cahaya pada hati, lisan, telinga, dan mata hamba. Jadikanlah cahaya dari belakang, depan, dan di bawah hamba. Ya Allah berikanlah pada hamba cahaya".

Lafal do'a di atas diriwayatkan oleh Muslim, dan di dalam riwayat Al-Bukhari ada tambahan lafal :

"Dan dari sebelah kanan dan sebelah kiri hamba berikanlah cahaya".

    Cahaya ini tidak hanya menyinari alam kubur dan akhirat saja, tapi juga memberikan cahaya di dunia. Kadang kala manusia terlilit permasalahan dunia, hingga tak mampu lagi membedakan antara yang hak dan yang batil, antara yang benar dan salah. Apalagi di zaman yang penuh dengan cobaan seperti sekarang ini.

    Rasulullah saw menggambarkannya dalam hadits yang di riwayatkan dari Abu Hurairah ra. Beliau bersabda :

"Segeralah beramal shalih untuk menghadapi fitnah yang menyerupai gelapnya malam". (HR.Muslim)  

    Pada masa fitnah yang gelap ini, bila seorang mukmin mampu menapaki jalannya, ia tidak akan tersesat dan sengsara. Allah swt akan menunjukkan hikmah, dan kemaslahatan dunia dan di akhirat.

"Dan apakah orang yang sudah mati kemudian dia Kami hidupkan dan Kami berikan kepadanya cahaya yang terang, yang dengan cahaya itu dia dapat berjalan di tengah-tengah masyarakat manusia, serupa dengan orang yang keadaannya berada dalam gelap gulita yang sekali-kali tidak dapat keluar dari padanya?" (QS.Al-An 'Am : 122)

   Kita memohon semoga Allah swt memberikan cahaya di dunia, di alam kubur, dan di akhirat. Sesungguhnya dia yang memiliki kekuasaan untuk melakukan itu semua.

3. Surga Yang Dijanjikan

    Diriwayatkan daru Abu Musa Al-Asy'ari ra, ia berkata bahwa Rasulullah saw bersabda :

"Barang siapa yang Shalat dua waktu yang dingin maka akan masuk surga". (HR.Al-Bukhari).

Dua waktu yang dingin itu adalah Shalat Subuh dan Ashar.

    Inilah janji Allah swt yang diwahyukan kepada Rasulullah saw. Akan masuk surga, mereka yang menjaga dua Shalat, yaitu Shalat Subuh dan Ashar. Inilah puncak keinginan orang-orang mukmin. Inilah kesuksesan hakiki dan kemenangan yang besar. Allah swt berfirman :

"Barang siapa dijauhkan dari neraka dan dimasukan ke dalam surga maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu". (QS. Al-Imran: 185)
  • Melihat Allah
 Inilah keistimewaan tertinggi diantara keistimewaan-keistimewaan sebelumnya. Dan, ini sangat mencengangkan manusia. Apakah di sana  ada sesuatu yang lebih tinggi dari pada surga ?

    Rasulullah saw telah menggambarkan kepada kita dengan jawabannya. Ya, di sana ada yang lebih tinggi dari sekedar surga, yaitu melihat Allah di surga. Pemberian yang sangat besar. Hadiah yang begitu agung, dan pahala yang berlipat ganda bersama dengan pahala yang lain.

    Siapakah yang mendapat kesempatan agung ini ?

    Merekalah orang-orang yang menjaga dua Shalat, yaitu Shalat Subuh dan Ashar.Bacalah hadits Rasulullah saw riwayat Imam Bukhari dan Muslim dari Jarir bin Abdullah ra berikut ini. Ia berkata :

"Kami sedang duduk bersama Rasulullah, ketika melihat bulan purnama. Beliau berkata, 'Sungguh, kalian akan melihat Rabb kalian sebagaimana kalian melihat bulan yang tidak terhalang dalam melihatnya'."

   Maksudnya, Anda akan melihat-Nya dengan jelas dan sempurna sebagaimana Anda melihat rembulan sekarang ini dengan jelas lagi sempurna. Kemudian beliau berkata :

"Apabila kalian mampu, janganlah kalian menyerah dalam melakukan Shalat sebelum terbit matahari dan Shalat sebelum terbenam matahari.  Maka lakukanlah". (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

   Subhanallah ! Kebaikan ini terdapat dalam Shalat Subuh. Bila Anda tahu sebagian orang Islam yang mendengar kebaikan itu, kemudian tetap tak bergerak untuk Shalat Subuh, apa yang akan Anda katakan pada mereka ?

   Bukankah ini benar-benar suatu kebodohan ?

   Bukankah ini benar-benar suatu kelalaian ?

   Ya, ini sungguh merupakan kelalaian dan kebodohan !

   Allah swt berfirman :

"Dan barang siapa yang tiada diberi cahaya (petunjuk) Allah tiadalah dia mempunyai cahaya sedikitpun". (An-Nur : 40)


  • Siksa Pedih Bagi Yang Meninggalkannya

   Sering kali Allah swt mengingatkan hamba-Nya supaya tidak tertipu, bahwa Allah Maha Pengampun lagi Maha Pengasih.

"Dan Allah memperingatkan kamu terhadap diri (siksa)-Nya". (QS. Al-Imran: 28)

 
"Barang siapa yang berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta". (QS.Thaha : 124)

"Sesungguhnya Tuhanmu amat cepat siksa-Nya, dan sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang". (QS. Al-A'raf: 167)

 
    Begitu sulit untuk membatasi keduanya. Bahkan Allah swt tidak akan menzalimi manusia sidikt pun, akan tetapi manusialah yang menzalimi dirinya sendiri. Allah swt berfirman dalam Hadits Qudsi riwayat Abu Dzar ra dari Rasulullah saw.

"Wahai hamba-Ku sesungguhnya itu adalah amal-amal kalian yang Aku hitung untuk kalian dan akan dikembalikan kepada kalian. Barang siapa yang mendapat kebaikan maka bersyukurlah kepada Allah; dan baarang siapa yang mendapatkan selain itu, maka janganlah mencaci selain dirinya sendiri". (HR.Muslim)

   Secara umum, meninggalkan Shalat merupakan dosa yang besar dan musibah yang tiada tara. Shalat menjadi amalan manusia pertama yang di hisab pada hari kiamat. Jika Shalatnya baik, maka baik pula seluruh amalnya; dan kalau jelek, jeleklah seluruh amalnya.

    Diriwayatkan dari Abu Hurairah ra bahwa Rasulullah saw bersabda :

"Sesungguhnya  amal manusia yang pertama kali di hisab pada hari kiamat adalah Shalatnya," Beliau bersabda, "Allah berkata kepada para malaikat-Nya dan Dia Maha Tahu, 'Lihatlah amal Shalat hamba-Ku, dia melengkapi atau menguranginya, kalau dia sempurna maka tulislah sempurna'. Kalau sedikit saja yang dikurangi, Allah berkata, 'Lihatlah apakah hamba-Ku melakukan Shalat Sunnah', Kalau seorang hamba melakukan Shalat Sunnah maka Allah berkata, 'Sempurnakanlah Shalat wajib hamba-Ku dengan Shalat Sunnahnya, lalu hitunglah amalannya sesuai dengan Shalatnya'." (HR. At-Tirmidzi, Abu Dawud, An-Nasa'i, Ibnu Majah, Ad-Darimi, dan Ahmad).

 
    Jadi bagaimana mungkin seorang mukmin mengharapkan kebaikan di akhirat, sedang pada hari kiamat bukunya kosong dari Shalat Subuh tepat waktu ?

    Seorang muslim yang meninggalkan Shalat Subuh pada waktunya akan mendapatkan segala hukuman yang disebutkan Allah dan Rasul-Nya baginya. Lebih dari itu, ada hukuman khusus bagi yang meninggalkan Shalat Subuh. Rasulullah saw telah menyebutkan hukuman berat bagi yang tidur dan meninggalkan Shalat wajib. Padahal sudah jelas bahwa rata-rata penyebab utama seorang muslim meninggalkan Shalat Subuh adalah tidur. Maka bila seseorang terbiasa tidur ketika tiba waktu Shalat, niscaya dia akan meninggalkan Shalatnya secara keseluruhan dan tidak akan melaksanakan Shalat kecuali setelah lewat waktu.

   Samurah bin Jundab ra meriwayatkan bahwasannya Rasulullah saw bermimpi. Dalam mimpi ini Rasulullah saw diperlihatkan adzab orang-orang yang berdosa dari orang-orang muslim. Bisa jadi ini adzab kubur, atau bisa jadi pula dalam api neraka, bahkan mungkin pada kedua-duanya, Rasulullah saw bersabda :

"Sesungguhnya telah datang kepadaku tadi malam dua tamu (jibril dan mikail). Keduanya di utus kepadaku, dan berkata, 'Berangkatlah', lalu saya berangkat bersama mereka. Kami mendatangi orang yang sedang tidur dan yang lainnya berdiri tegak di atasnya dengan membawa  batu, Lalu tiba-tiba melepaskan batunya tepat pada kepalanya hingga hancur luluh kepalanya. Batu itu telah meleburkannya. Kemudian dia mengambilnya kembali, dan dia tidak mengulanginya hingga kepalanya pulih kembali, sebagaimana semula. Kemudian dia akan kembali, lalu dia akan melakukan sebagaimana yang telah dia lakukan pada pertama kalinya. Rasulullah berkata, 'Saya berkata kepada keduanya, 'Subhanallah ! Apa ini?'. 'Mereka berdua berkata: "Lanjutkan perjalanan..... Lanjutkan perjalanan......'." (HR Al-Bukhari)

   Beliau melewati peristiwa berlainan yang jumlahnya sangat banyak. Namun, tidak mungkin di sebutkan secara keseluruhan disini.

   Kemudian kedua malaikat tadi mulai menjelaskan padanya peristiwa yang beliau saksikan tadi :

"Orang pertama yang telah Anda datangi tadi, yang memecahkan kepalanya dengan batu, ia adalah orang yang membawa Al-Qur'an  namun mencampakannya dengan begitu saja, dan tidur pada saat Shalat wajib".

  Semua orang tahu bahwa tidur  menjadi penghalang utama Shalat Subuh. Adapun gambaran orang memukul kepalanya,adalah karena ia merupakan tempat akal, tempat paling mulia yang dimiliki manusia.

   Perkara ini serius dan tidak main-main. Barang siapa yang biasa melanggar, dikhawatirkan masuk fitnah. Barang siapa yang masuk fitnah, maka akan masuk ke dalam adzab yang menyakitkan.

"Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah-Nya takut akan ditimpa cobaan atau di timpa adzab yang pedih". (QS. An-Nur :63)

  • Shalat Sunnah Yang Lebih Mulia Dari Pada Dunia Seisinya

   Shalat Fajar yaitu Shalat Sunnah sebelum Shalat Subuh merupakan Shalat Sunnah yang paling banyak pahalanya di bandingkan Shalat Sunnah lainnya. Rasulullah saw mengistimewakannya dengan pahala yang begitu besar, dengan gambaran yang benar-benar menarik perhatian.

   Di antaranya, Rasulullah saw bersabda yang diriwayatkan dari Aisyah ra :

"Dua rekaat fajar (Shalat Sunnah sebelum Subuh) lebih baik dari dunia dan seisinya". (HR.Muslim)

   Dalam riwayat Ahmad disebutkan :

"Dua rekaat fajar (Shalat Sunnah sebelum Subuh) lebih baik dari pada dunia semua".

 
   Lalu..... Apa yang menghalangi kita Shalat Subuh ? Bukankah ia menjadi bagian yang begitu besar di banding dunia ?

   Apakah karena begadang menyelesaikan urusan dunia, atau hanya karena sebuah keinginan untuk sedikit tidur agar dapat bangun jam tujuh atau jam delapan atau setelahnya ?

  Atau, apakah karena persiapan mengerjakan urusan dunia yang lain? Demikiankah alasan kita meninggalkan Shalat Subuh ?

   Dunia - seluruh dunia - segala isinya mulai dari bentuk harta benda, harta simpanan, kedudukan, usaha, segala yang menggiurkan dan menyenangkan, tidak akan sampai nilainya sebesar Shalat Sunnah Fajar dua rekaat !

   Coba Anda renungkan. Ini semua baru keutamaan Sunnah Fajar. Lalu bagaimana dengan dua rekaat fajar yang wajib, yaitu Shalat Subuh  ?


   Subhanallah ! Nilai yang sangat besar ini bukan di sebabkan lamanya berdiri atau panjangnya bacaaan dalam dua rekaat ini. Bahkan Rasulullah saw sering memendekan bacaannya dalam Shalat dua rekaat sebelum Shalat Subuh ini

   Al-Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah ra bahwa Rasulullah saw membaca surat Al-Kafirun pada rekaat pertama dan surat Al-Ikhlas pada rekaat kedua.

    An-Nasa'i meriwayatkan dari Sayyidah Aisyah ra. Ia berkata, "Sungguh, aku menyaksikan Rasulullah saw, memendekan bacaannya ketika Shalat dua rekaat Fajar, sampai-sampai aku bertanya, 'Apakah beliau membaca Ummul Kitab (Al-Fatihah) atau tidak ?"

 
     Kalau begitu, bukan karena panjangnya bacaan yang menjadi sebab bertambahnya keutamaan sampai melebihi dunia dan segala isinya. Namun karena ketentuan waktu pelaksanaan Shalat yang sangat mulia ini.

     Maka, orang yang mampu meninggalkan dunia dan bangun sebelum waktu Shalat Subuh, kemudian ia menunaikannya dua rekaat Fajar, dialah orang yang sukses dalam ujian. Sebagaimana ia telah meninggalkan  dunia dan segala isinya untuk menunaikan Shalat, maka Allah swt pun memberikan pahala yang sangat besar dari itu semua.

Diriwayatkan dari Sayyidah Aisyah ra, beliau berkata :

"Tidak ada Shalat Sunnah yang lebih diperhatikan Rasulullah saw selain Shalat Sunnah sebelum Subuh". (HR.Al-Bukhari)
 
    Dalam Fathul Bari, Ibnu Hajar Al-Asqalani menjelaskan bahwa ketika melakukan perjalanan, Rasulullah saw tidak mengerjakan Shalat Sunnah baik yang dikerjakan sebelum Shalat fardhu, maupun sesudahnya, kecuali Shalat Sunnah Subuh.

Diriwayatkan dari Abu Hurairah ra bahwa Rasulullah saw bersabda  :

"Janganlah meninggalkan Shalat Sunnah Subuh walaupun kalian dikejar pasukan musuh". (Abu Dawud dan Ahmad)

 
    Dalam segala kondisi, saat dikejar pasukan musuh, atau bahkan saat perang berkecamuk, janganlah Anda meninggalkan dua rekaat Shalat Sunnah sebelum Subuh.

    Disebabkan nilainya yang begitu tinggi, Rasulullah saw meng-qadha' (mengganti) Shalat Sunnah fajar bila telah lewat waktunya. Beliau menggantinya setelah Shalat Subuh atau setelah terbit matahari. Ini terjadi, baik saat beliau terlambat dalam mengerjakan Shalat Sunnah sebelum Shalat Subuh, atau Shalat Subuh itu sendiri. Hal yang demikian tidak dilakukan pada Shalat Sunnah yang lain, selain Shalat malam.

    Itulah sebab penghormatan begitu besar pada dua rekaat Shalat Sunnah Subuh memberikan nilai tinggi dan kedudukan yang lebih pada Shalat Subuh yang wajib. Hal ini merupakan sesuatu yang sangat mahal,  dan selayaknya untuk direnungi.

Wahai pencari sedikit potongan dunia, bagaimana Anda terlena  dari sesuatu yang lebih baik dari dunia dan seisinya ?

  • Perlakuan Khusus Terhadap Shalat Subuh

     Rasulullah saw menjadikan Shalat ini sesuatu yang begitu istimewa dan berbeda dengan Shalat-Shalat yang lain. Pada dasarnya semua Shalat sangat penting, dan Shalat mempunyai pahala besar. Namun ketika dicermati secara seksama perbedaan Shalat ini dibanding Shalat lainnya, nampak sekali bila Shalat ini memiliki keutamaan khusus yang besar.

Di bawah ini adalah beberapa keutamaan itu :

     Pertama, Shalat Subuh merupakan salah satu Shalat yang pertama kali diwajibkan atas kaum muslimin, di samping Shalat Ashar.

    Terbukti, Shalat Subuh pelaksanaannya dilakukan seperti yang kita kerjakan sekarang ini, yaitu dua rekaat. Adapun Shalat Ashar semula dua rekaat kemudian ditambah menjadi empat setelah peristiwa Isra' Mi'raj. Sedangkan Shalat Subuh masih tetap seperti ketika pertama kali di syariatkan.

     Artinya umat Islam melaksanakan Shalat Subuh dengan kondisi dan waktu yang sama sejak pertama kali Rasulullah saw di utus. Masalah ini menarik sekali. Seakan-akan Shalat Subuh menjadi Shalat yang sangat dibutuhkan muslim atau mukmin di muka bumi. Ia diwajibkan sejak diturunkan syariat  yang pertama kali kepada Rasulullah saw.

     Kedua, Adzan Subuh berbeda dengan adzan pada Shalat-Shalat yang lain.

     Diriwayatkan Abu Dawud dari Abu Mahdzurah ra, bahwa Rasulullah  saw mengajarinya menambah lafal As-Shalatu khairum minan naum (2x) (Shalat itu lebih baik dari pada tidur) setelah lafal Hayya 'alal falah.
   Apa yang sebenarnya menghalangimu mendapatkan Shalat Subuh tepat waktu? Bukankah karena kenyamanan dan nikmatnya tidur?

     Nah,  sekarang Anda sudah mengetahui apa yang dikatakan Rasulullah saw bahwa Shalat Fajar itu lebih baik dari  pada tidur, sebesar apapun pentingnya tidur itu bagi Anda!

    Jika Anda percaya Rasulullah saw dan Anda yakin apa yang dikatakannya benar, tanpa sedikitpun kebatilan, maka tidak ada alasan untuk tidak mengikutinya. Jika Anda berpendapat tidur itu berguna, lebih utama, lebih sesuai bagi Anda dari pada bangun, persepsi ini sangat berbahaya dan harus direnungkan kembali.

     Saudaraku, buktikan bahwa Anda beriman kepada Rasul saw.

     Ketiga, Rasulullah saw memberikan do'a khusus setelah Shalat Subuh, yang berbeda dengan Shalat yang lain.

    Do'a khusus ini sebagai tambahan wirid  penutup Shalat yang sering diwasiatkan Rasulullah saw setiap selesai Shalat ; seperti Subhanallah 33 kali, Alhamdulillah 33 kali, Allahu Akbar 33 kali, Astaghfirullah, dan do'a-do'a yang lain. Rasulullah saw menambahkan dzikir-dzikir khusus setelah Shalat Subuh, yang tidak dianjurkan pada waktu yang lain.

      Seperti contoh hadits yang diriwayatkan dari Abu Dzar ra bahwa Rasulullah saw bersabda :

"Barang siapa setelah Shalat Subuh sebelum meninggalkan tempat duduknya dan belum berbicara sedikitpun mengucapkan : (La Ilaha Illallah wahdahu la syarika lahu. Lahul mulku walahulhamdu yuhyi wa yumitu wahuwa 'ala kuli syai'in qadir. Tak ada Ilah yang berhak di sembah selain Allah saja. Ia tidak memiliki sekutu. Milik-Nyalah kerajaan dan segala pujian. Dia Maha Menghidupkan dan Maha Mematikan. Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu.)

 
    Sebanyak 10 kali, di tulisnya 10 kali kebaikan, dihapus 10 kali kesalahan, diangkat baginya 10 derajat. Satu hari penuh ia terlindungi dari sesuatu yang tidak disukai, terlindung dari setan, tidak ada dosa yang akan mencelakainya, kecuali syirik." (HR. At-Tirmidzi ; Hasan Shahih).

    Begitu juga hadits yang diriwayatkan dari Muslim bin Al-Harits ra, Ia berkata bahwa Rasulullah saw berbicara mengatakan padanya, "Jika kamu Shalat Subuh, sebelum kamu berbicara, bacalah :

(Allahumma ajirni minannari : Ya Allah, Lindungilah aku dari api neraka.)

    Sebanyak 7 kali, maka jika kamu mati hari itu Allah akan melindungimu dari api neraka." (HR. Abu Dawud dan Imam An-Nasa'i).

    Keutamaan-keutamaan ini adalah sesuatu yang tidak bisa dinilai dengan harga dan tidak didapatkan kecuali di waktu itu.

    Keempat, Rasulullah saw selalu menyuruh kaum muslimin  untuk memendekkan bacaan waktu Shalat, kecuali Subuh. Sebagaimana diriwayatkan dari Abu Barzah Al-Aslami ra bahwa :

"Rasulullah, pada saat Shalat Subuh, membaca 60 sampai 100 ayat, dan beliau pergi meninggalkan kami ketika kami sudah mengenali wajah sesama kami (maksudnya, sebentar lagi matahari terbit)". (HR.Muslim)

    Jelas sekali, penekanan Rasulullah saw terhadap bacaan yang panjang hanya pada Shalat ini. Shalat yang dilaksanakan pada saat hati jauh dari perkara-perkara dunia dan permasalahannya. Sebagaimana seorang muslim memulai harinya dengan Shalat ini, Alangkah indahnya seandainya dia memulai menapaki harinya dengan beberapa ayat yang agung.

Allah swt mengibaratkan  Shalat Subuh itu dalam sebuah firman-Nya :

"....dan (dirikanlah pula shalat) subuh. Sesungguhnya shalat subuh itu disaksikan (oleh malaikat)". (Al-Isra : 78)

    Itu menunjukan bahwa bacaan Al-Qur'an pada waktu Subuh  lebih panjang dari pada Shalat lain.

    Kelima, Bacaan khusus Rasulullah saw di hari jumat pada waktu Subuh.

    Sebagaimana terdapat dalam riwayat Al-Bukhari dan lainnya dari Abu Hurairah ra, bahwasannya pada rakaat pertama, Rasulullah saw membaca surat As-Sajdah dan surat Al-Insan pada rekaat kedua. Keistimewaan ini tidak terjadi di Shalat wajib yang lain.

    Keenam, Shalat Subuh tidak bisa di Qashar dan di Jama'.

    Shalat Dzuhur dan 'Ashar boleh di Qashar dan di Jama'. Maghrib bisa di jama' dengan Isya' namun tidak bisa di Qashar. Isya' boleh di Jama' dan Qashar. Lain halnya dengan Subuh, yang tidak boleh di Jama' dan di Qashar. Baik pada waktu berpergian ataupun di rumah, pada saat haji, jihad, kondisi kurang aman, atau yang lain-lain.

    Tidak diragukan lagi, ini menjadi sebuah keistimewaan yang membutuhkan perhatian lebih serius. Kita memohon kepada Allah semoga Allah menjadikan kita dari golongan orang-orang yang memelihara Shalat Subuh dan merindukannya.


  •  Waktu Yang Menjadi Saksi  

     Allah swt mengagungkan waktu Subuh di dalam Al-Qur'an, Ia tidak pernah bersumpah dalam kitab-Nya dengan waktu Shalat kecuali Shalat Subuh dan Ashar, Allah swt berfirman : "Demi fajar, dan malam yang sepuluh".(Al-Fajr: 1-2)

    Waktu ini adalah waktu yang menjadi saksi. Waktu yang disaksikan hamba Allah yang mulia, yaitu para malaikat! Semua malaikat yang ada di langit turun ke bumi untuk menyaksikan shalat subuh!

Diriwayatkan dari Abu Hurairah ra, bahwa ia mendengar Rasulullah saw bersabda :

"Shalat berjamaah lebih utama dari shalat salah seorang kaum kamu yang sendirian, berbanding dua puluh lima lipat. Malaikat penjaga malam dan siang berkumpul pada waktu Shalat Subuh".

Kemudian Abu Hurairah ra berkata, "Kalau anda mau, bacalah : Inna qur'anal fajri kana masyhuda".
(HR.Al-Bukhari).

 
     Perhatikanlah, bagaimana Allah sampai meninggikan derajat Shalat ini dan menjadikannya sebagai waktu pertemuan para malaikat penjaga malam dan siang ?

    Pada hadits riwayat Abu Hurairah ra disebutkan bahwa Rasulullah saw menjelaskan tentang malaikat penjaga malam. Para malaikat langsung naik ke langit setelah menyaksikan Shalat Subuh.

"Kemudian naiklah para Malaikat yang menyertai kamu pada malam harinya, lalu Rabb mereka bertanya kepada mereka padahal Dia lebih mengetahui keadaan mereka, 'Bagaimana hamba-hamba-Ku ketika kalian tinggalkan?' Mereka menjawab, 'Kami tinggalkan mereka dalam keadaan Shalat dan kami jumpai mereka dalam keadaan Shalat juga'." (HR Al-Bukhari).

 
Renungkan sejenak adanya perbedaan yang sangat besar, ketika malaikat mengatakan kepada Allah swt :

"Kami menemukan si fulan sedang melaksanakan Shalat Subuh berjamaah. Sementara si fulan kami temukan sedang lelap dalam tidurnya, Shalat Subuh bukan menjadi prioritasnya, dan ia kurang perhatian dengan waktu Shalat!"

Perbedaan yang sangat jauh ! Diantara dua golongan di atas, mana yang Anda inginkan ? Silahkan Anda memilih.

  • Berada di Bawah Lindungan Allah

     Rasulullah saw memberi janji, bahwa bila Shalat Subuh Anda kerjakan, maka Allah akan melindungi Anda seharian penuh.

Diriwayatkan dari Jundab bin Sufyan ra bahwa Rasulullah saw bersabda :

"Barang siapa yang menunaikan Shalat Subuh maka ia berada dalam jaminan Allah. Maka jangan coba-coba membuat Allah membuktikan janji-Nya. Barang siapa yang membunuh orang yang menunaikan Shalat Subuh, Allah akan menuntutnya, sehingga Ia akan membenamkan mukanya ke dalam neraka" (HR Muslim, At-Tirmidzi, dan Ibnu Majah. Lafal di atas menurut riwayat Ibnu Majah).

     Jaminan Allah, artinya : dalam perlindungan Allah.

     Inilah perlindungan Rabbani, bagi orang yang melaksanakan Shalat Subuh.

    Anda akan merasakan percaya diri pada hari yang dimulai dengan Shalat Subuh. Anda akan merasa lebih tegar menghadapi ujian dan cobaan di hadapan para Thagut dan Diktator. Anda berada dalam lindungan Raja dari semua raja, yang mencipta segala kehidupan. Lalu apalagi yang Anda inginkan ? Semua ini diperoleh hanya dengan dua rekaat !

   Dua rekaat inilah yang menguatkan kebenaran hati dan mengokohkan iman. Itulah sebab Allah swt melindungi Anda.

"Sesungguhnya Allah membela orang-orang yang telah beriman. Sesungguhnya  Allah tidak menyukai tiap-tiap orang yang berkhianat lagi mengingkari nikmat." (Al-Hajj :38)

  • Muara Ilmu dan Iman

    Rasulullah saw menjadikan Shalat Subuh sebagai kesempatan mengajarkan kebaikan kepada para sahabatnya. Beliau sering menyampaikan pelajaran dan penjelasan tentang berbagai hal setelah Shalat Subuh. Beliau memberi jawab atas pertanyaan sahabat-sahabatnya. Beliau juga menerangkan sebuah mimpi atau hal-hal lain yang berkaitan dengan pembinaan. Sungguh, Shalat Subuh merupakan pertemuan ilmiyah dan pertemuan iman yang sangat bagus dan mulia.

    Shalat Subuh menjadi salah satu sarana penting dalam tarbiyah, karena Shalat Subuh merupakan saat-saat ketika hati dan pikiran sedang jernih. Bahkan malaikat juga turut menjadi saksi bagi orang-orang yang berada dalam rumah Allah dan membicarakan Kalam Ilahi. Sementara para hadirin adalah orang-orang yang benar-benar iman. Sungguh, ini kesempatan terbaik untuk menanamkan akidah, akhlak, dan fikih.


   Rasulullah saw selalu berbicara dengan tema yang bervariasi dalam setiap pertemuan, sehingga kaum muslimin tak pernah merasa jenuh. Di suatu kesempatan, kadang kala beliau menanyakan kondisi para sahabatnya. Ini sebagai salah satu bentuk pendidikan beliau kepada para sahabatnya.

   Dalam sebuah hadits riwayat Abu Hurairah ra bahwa suatu hari setelah Shalat Subuh, Rasulullah saw bertanya kepada sahabatnya, "Siapa diantara kalian yang puasa pada hari ini?" Abu Bakar menjawab, "Saya.' Lalu beliau bertanya  lagi, "Siapa diantara kalian yang mengantarkan jenazah hari ini?" Abu Bakar menjawab lagi, 'Saya'. Lalu bertanya lagi, "Siapa di antara kalian yang sudah memberi makan fakir miskin pada hari ini?" Jawab Abu Bakar, 'Saya'. Beliau bertanya lagi, "Siapa yang sudah menjenguk orang sakit pada hari ini?" Lagi-lagi Abu Bakar menjawab, 'Saya'."Kemudian Rasulullah saw bersabda : "Tidak terkumpul semua ini dalam diri seseorang kecuali ia akan dimasukkan kedalam surga." (HR Muslim).

Bisa Anda bayangkan, kapan Abu Bakar Ash-Shiddiq ra bangun, sehingga bisa mengerjakan semua ini ?

Dalam hadits lain dari Abu Hurairah ra Rasulullah saw berkata kepada Bilal selepas Shalat Subuh :

"Wahai Bilal, beritahu aku amal apa yang paling engkau andalkan yang selalu engkau kerjakan, sampai-sampai aku mendengar suara sandalmu di depanku dalam surga". Bilal menjawab, Tidak ada amalan lain yang saya harapkan untuk dapat melakukannya melainkan mendirikan Shalat sebanyak mungkin setiap kali habis berwudhu, baik diwaktu siang hari atau malam. Selama saya masih dalam keadaan berwudhu (belum batal)". (HR Al-Bukhari).

  Kadang-kadang beliau menceritakan pada sahabat-sahabatnya berbagai kisah mengasyikkan untuk menghilangkan rasa kantuk yang acap kali menyelimuti mereka.

Diriwayatkan dari Abu Hurairah ra bahwa Rasulullah saw  Shalat Subuh kemudian menghadap kebelakang sambil berkata :

"Ketika seorang laki-laki sedang mengendalikan sapi, ia memukulnya di saat ia menungganginya. Lalu sapinya berkata, 'Sungguh kami diciptakan bukan untuk ini, tapi kami di ciptakaan untuk bercocok tanam.' Lalu orang-orang berkata, 'Maha Suci Allah, seekor sapi berbicara!'

 
Lalu beliau berkata ;

"Sesungguhnya aku, Abu Bakar dan Umar percaya akan hal ini. Bahkan yang lebih (aneh) dari pada itu pun, mereka berdua mempercayainya.

"Selanjutnya, pada saat seorang pengembala sedang berada di tengah-tengah kambing gembalaannya, tiba-tiba seekor serigala menyerangnya, dan melarikan salah satu kambingnya. Kemudian dia mengejarnya, seakan-akan ingin menyelamatkan darinya. Serigala itu berkata kepadanya, 'Engkau ingin menyelamatkannya dariku. Maka siapa yang akan melindunginya pada hari perburuan, hari yang tiada seorang pengembalapun kecuali saya?' Lalu orang-orang berkata, Maha Suci Allah, Seekor serigala berbicara!'

 
Lalu beliau berkata;

"Sesungguhnya aku, Abu Bakar dan Umar percaya akan hal ini dan mereka berdua akan percaya sesuatu yang lebih (aneh) dari pada semua itu."  (HR Al-Bukhari).

   Terkadang saat berkhutbah dengan panjang lebar, atau memberikan nasihat yang sangat indah. Hal ini dalam rangka mengajari mereka dengan ungkapan yang begitu ringkas tapi padat.

   Sebagaimana yang diriwayatkan, dari Al-Irbadh bin Sariyah ra berkata, "Suatu hari Rasulullah saw mengimami kami Shalat Subuh, lalu beliau menghadap kepada kami memberi nasihat indah dan berharga sekali, sehingga air mata kami bercucuran, dan hati kami bergetar.

   Lalu ada salah seorang yang berkata, 'Wahai Rasulullah saw, seolah-olah ini adalah nasihat perpisahan , maka apa pesan Anda kepada kami?'

Rasulullah saw bersabda :

"Aku wasiatkan kepada kalian untuk bertakwa kepada Allah, mendengar dan taat, walaupun kepada seorang budak dari Habasyah. Sesungguhnya barang siapa di antara  kalian yang hidup setelahku akan melihat perselisihan yang banyak, maka berpeganglah pada sunnahku, dan sunnah Khulafa'urrasyidin yang mendapat petunjuk. Peganglah ia, dan gigit erat dengan gerahammu, dan jauhilah segala yang pembaharuan (dalam ibadah), karena sesuatu yang baru adalah bid'ah dan semua bid'ah adalah sesat."
(HR. At-Tirmidzi, Abu Dawud, Ibnu Majah, Ahmad dan Ad-Darimi).

     Semua kisah-kisah tadi menunjukan bahwa Rasulullah saw senantiasa beramah tamah dengan sahabatnya selepas  Shalat Subuh dalam rangka membimbing, mendidik dan menjelaskan ajaran-ajaran agama kepada mereka.

   Tentunya ini semua menjadi faktor pendorong bagi siapa saja yang dalam hatinya muncul keraguan, agar tidak tertinggal dalam melaksanakan Shalat Subuh.

  • Latihan Harian Bagi Ruhani

    Rasulullah saw selalu menganjurkan untuk tetap tinggal di dalam masjid setelah Shalat Subuh, hingga waktu terbit matahari. Waktu pagi, ibarat acara pelatihan peningkatan keimanan yang sangat agung, sebagai permulaan menapaki hari-hari bagi seorang mukmin.

    Sebagaimana yang telah kita sebutkan, bahwa Rasulullah saw, senantiasa memanjangkan bacaan Shalat Subuh lebih dari Shalat yang lain hingga 60-100 ayat, dan selepas Shalat kadang beliau memberikan pengajian yang ringan, atau beramah tamah mengajukan beberapa pertanyaan. Bahkan beliau menganjurkan mereka duduk berdzikir kepada Allah hingga matahari terbit.

Diriwayatkan dari Anas bin Malik ra, ia berkata bahwa Rasulullah saw bersabda :

"Barang siapa mengerjakan Shalat Subuh dengan berjamaah kemudian duduk berdzikir kepada Allah hingga tebit matahari, kemudian Shalat dua rekaat, maka baginya seperti pahala haji dan umrah yang ditunaikan dengan sempurna..... dengan sempurna..... dengan sempurna! (HR At-Tirmidzi).

    Begitu juga hadits yang diriwayatkan Jabir bin Samurah ra, "Apabila Nabi saw telah melaksanakan Shalat, beliau duduk bersila di tempatnya hingga matahari terbit dengan baik. (HR . Muslim)

Artinya, sampai terbit matahari secara sempurna.
 
    Selanjutnya ada banyak dzikir pagi yang senantiasa di baca Rasulullah saw. Beliau juga menganjurkan kepada  para sahabat agar membacanya setelah Subuh dan sebelum terbit matahari.

   Semua merupakan dzikir yang begitu besar nilainya, penuh kesyukuran, pujian, istighfar, tasbih dan berserah diri kepada Allah. Inilah permulaan hari  yang sangat indah.Dalam sebuah hadits riwayat Abdullah bin Ghannam Al-Bayadi ra, disebutkan bahwa rasulullah saw bersabda, "Barang siapa yang di pagi  hari mengucapkan :

Allahumma ma asbaha bi ni'matun faminka wahdaka la syarika laka falakal hamduwalakas syukru : Ya Allah seluruh nikmat yang ada pada diriku hanyalah dari-Mu. Tiada sekutu bagi-Mu. Bagi-Mu segala puji dan ungkapan syukur.

Sungguh ia telah menunaikan rasa syukurnya dalam siang harinya. Kemudian barang siapa yang mengatakan seperti itu juga di waktu sore, maka ia telah menunaikan rasa  syukurnya pada malam hari". (HR Abu  Dawud).

     Terdapat juga dalam sebuah riwayat dari Abi Sa'id Al-Kudri ra, yang menyebutkan :

    "Suatu hari Rasulullah saw masuk kedalam masjid. Ketika itu ada seorang laki-laki dari kaum Anshar yang di kenal dengan Abu Umamah, Rasulullah saw berkata kepadanya, "Wahai Abu Umamah, apa gerangan yang terjadi padamu sehingga engkau duduk di masjid di luar waktu Shalat?" Lalu dia menjawab, "Saya sedang dirundung kebingungan dan banyak hutang ya Rasulullah saw."

   Lalu beliau saw bersabda, "Maukah engkau kuajarkan suatu do'a yang jika engkau mengucapkannya, niscaya Allah akan menghilangkan rasa kebingunganmu dan membayar utangmu?" Abu Umamah menjawab, "Tentu" Beliau bersabda, "Ucapkanlah di pagi dan sore hari :

"Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepadamu dari dukacita dan kesedihan. Aku berlindung kepadamu dari kelemahan dan malas. Aku berlindung kepadamu dari takut dan bakhil. dan aku berlindung kepadamu dari hutang dan penindasan."


 Orang itu (Abu Umamah) berkata, "Lalu saya melaksanakan itu, kemudian Allah menghilangkan rasa bingung dan utang saya." (HR. Al-Bukhari, At-Tirmidzi, dan Abu Dawud. Lafal di atas merupakan lafal Abu Dawud).
Dalam riwayat Syaddad bin Aus, disebutkan bahwa Nabi saw, bersabda, Sayyidul Istighfar itu adalah :

"Ya Allah, Engkau adalah Rabbku. Tidak ada Ilah yang berhak di ibadahi selain Engkau. Aku adalah hamba-Mu. Terhadap janji pada-Mu, aku berusaha sekuat kemampuanku. Aku mengakui seluruh nikmat yang Kau berikan padaku, dan aku mengakui pula seluruh dosa yang ku kerjakan. Maka ampunilah aku. Sesungguhnya tak ada yang dapat mengampuni dosaku, selain Engkau. Aku berlindung kepada-Mu dari buruknya perbuatanku."

"Kalau seseorang mengucapkannya di sore hari, kemudian ia meninggal dunia, maka ia akan masuk surga atau menjadi penghuni surga. Demikian pula kalau seseorang melafalkannya di pagi hari, kemudian meninggal pada hari itu."
(HR Al-Bukhari dan yang lainnya)


     Dzikir pagi itu begitu banyak dan sangat indah. Bayangkanlah diri Anda mengerjakan rutinitas dzikir ini setiap hari. Lalu lihatlah bagimana kedudukan Anda di sisi Allah swt dan disisi manusia dalam berinteraksi dengan mereka. Ini merupakan awal yang bagus demi menapaki hari-hari Anda.

  • Penghapus Dosa Setengah Usia

    Rasulullah saw menjelaskan, Shalat merupakan penghapus dosa yang dilakukan antara Shalat ini dan Shalat sebelumnya.

Diriwayatkan dari Abu Hurairah ra, bahwa Rasulullah saw bersabda :

"Shalat lima waktu, Jumat ke Jumat, dan Ramadhan ke Ramadhan adalah penghapus dosa di antara keduanya, apabila menjauhi dosa-dosa besar." (HR Muslim)

Pun demikian yang diriwayatkan Utsman bin Affan ra, bahwa ia mendengar Rasulullah saw bersabda ;

"Seorang muslim pun yang apabila datang waktu Shalat wajib, menyempurnakan wudhu, kekhusukan, dan rukuknya, maka perbuatannya tersebut menjadi penghapus dosa-dosa yang telah lalu, selama ia tidak melakukan dosa besar, dan itu sepanjang masa." (HR Muslim)

     Subhanallah ! Inilah rahmat yang besar dari Rabb semesta alam.

   Coba perhatikan, masa antara Shalat Isya' dan Shalat Subuh adalah waktu terlama dibanding antara Shalat-Shalat yang lainnya, yaitu secara keseluruhan.

   Dengan demikian Shalat Subuh menjadi penghapus dosa setengah hari, dan Shalat-Shalat yang lain menjadi penghapus separuh harinya lagi. Itu berarti Shalat Subuh menjadi penghapus setengah umur bagi yang selalu mengerjakannya, dan Shalat-Shalat yang lain penghapus separuh umurnya lagi. Itu akan terjadi bila ia menjauhi dosa-dosa besar. Keutamaan yang sangat besar dan tidak bisa di ukur.

  • Berkah di Tiap Langkah

   Rasulullah saw menarik perhatian para sahabat dan perhatian kita, dengan pernyataannya bahwa keberkahan itu ada di waktu pagi. Jam-jam pertama di pagi hari (setelah Shalat Subuh) merupakan waktu yang paling barakah dalam satu hari penuh. Tak ada seorangpun yang bisa memanfaatkannya kecuali orang-orang yang bangun di pagi buta, dan Shalat Subuh.  Kemudian ia memulai harinya dengan menggunakan waktu sejak awal.

Diriwayatkan dari Shakhr Al-Ghamidi ra, ia berkata bahwa Rasulullah saw bersabda :  

"Ya Allah berkatilah umatku di waktu pagi." (HR At-Tirmidzi, Abu Dawud, Ahmad, dan Ibnu Majah).

   Berkah Allah ada dalam segala hal. Mulai dari pekerjaan, perdagangan, bercocok tanam, membaca, musafir dan berjihad di jalan Allah. Rasulullah saw sebagaimana yang diriwayatkan  Shakhr Al-Ghamidi ra, selalu mengutus pasukannya di pagi hari.

   Sebagai seorang pedagang, Shakhr pun memegang nasihat ini. Ia selalu berangkat (atau mengutus seseorang untuk) membawa dagangannya  di pagi hari dan  dia selalu beruntung, hingga hartanya menjadi melimpah. Bahkan Imam Ahmad menyebutkan, saking banyak hartanya, sehingga Shakhr pun tak tahu lagi dimana harus menyimpan harta tersebut.

    Imam Tirmidzi meriwayatkan dari Nu'man bin Muqrin ra, bahwa di waktu fajar, Rasulullah saw menunggu matahari terbit, sebelum menginstruksikan pasukannya maju bertempur.

    Beliau bersabda, bahwa pada waktu seperti itu , bertiuplah angin kemenangan, dan orang-orang mukmin berdo'a dalam Shalat memohon kemenangan bagi tentara mereka.

Anas bin Malik ra meriwayatkan : "Pada waktu perang badar Rasulullah saw Shalat Subuh diawal Fajar, posisi beliau saat itu sangat dekat dengan musuh, lalu beliau memerangi mereka." Beliau berkata. 'Allahu Akbar, hancurlah Khaibar, hancurlah Khaibar'. Sungguh, ketika kami turun pada perumahan mereka, maka dengan mudah dihancurkan."  (HR An-Nasa'i).

    Ternyata, keberkahan, kelebihan, dan kemenangan itu semua terjadi di pagi hari.

    Namun, apa yang terjadi jika umat manusia enggan bangun di saat-saat penuh berkah ini ?

    Apa yang terjadi ketika mereka lalai, terlena, dan masa bodoh dengan kesempatan yang sangat agung ini ?

    Apa yang terjadi jika mereka tidak mengindahkan peringatan-peringatan Rasulullah saw ? Apa yang akan terjadi tatkala manusia memulai harinya justru setelah semua kebaikan ini berlalu.

Perhatikan baik-baik hadits Rasulullah saw yang diriwayatkan dari Abu Hurairah ra :

"Setan melilit leher seorang diantara kalian dengan tiga lilitan ketika kalian tidur. Dengan setiap lilitan setan membisikan, 'Nikmatilah malam yang panjang ini''. Apabila ia bangun lalu mengingat Allah, maka terlepaslah lilitan itu. Apabila ia berwudhu, lepaslah lilitan yang kedua. Kemudian apabila ia Shalat, lepaslah lilitan yang ketiga, sehingga ia menjadi bersemangat. Tetapi kalau tidak, ia akan terbawa lamban dan malas." (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

    Akan tetapi perlu diketahui, hadits ini disebutkan dalam momen keutamaan Shalat malam, bukan Shalat Subuh. Artinya jika ia tidak bangun sebelum Subuh untuk Shalat dua rekaat, dia akan merasa kurang dan malas. Lalu bagaimana halnya dengan orang yang tidur di waktu Shalat wajib?

    Apakah kemalasan lebih kita inginkan atau hidup ini akan kita isi dengan penuh semangat? Dahulu bisa jadi kita masih melihat orang-orang  pergi bekerja di pagi buta, tak pandang bulu, entah itu petani, pedagang dan karyawan. Kemudian setelah bertebaran televisi, video, saluran-saluran TV bebas, klub, dan kafe-kafe, kini apa yang terjadi?

    Apa akibat dari begadang, terlambat bangun dan sia-sianya saat-saat berharga di waktu Subuh? Waktu yang penuh berkah telah pergi begitu saja, pendapatan semakin sedikit, dan krisis ekonomi semakin parah.

   Tidak ada sarana lain demi mengembalikan keberkahan itu kecuali kembali kepada syariat secara sempurna dan memperhatikannya secara rinci. Akhirnya kita harus memanfaatkan waktu semaksimal mungkin dari Subuh hingga waktu tidur. Kita memohon kepada Allah untuk memberikan taufik-Nya kepada umat Islam.

No comments:

Post a Comment